• Jelajahi

    Copyright © Repetisi Net
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Seakan-akan Sumenep Tidak Lagi Punya Pemerintahan Ketika Warga Dusun Bulu Kecamatan Pragaan Perbaiki Jalan Rusak Secara Swadaya

    Repetisi
    Minggu, 15 Februari 2026, 08:05 WIB Last Updated 2026-02-15T01:15:28Z
    masukkan script iklan disini

     

    Seakan-akan Sumenep Tidak Lagi Punya Pemerintahan Ketika Warga Dusun Bulu Kecamatan Pragaan Perbaiki Jalan Rusak Secara Swadaya

    • Masyarakat Dusun Bulu memperbaiki jalan rusak menuju Mushalla Nurul Jannah secara swadaya karena tak kunjung mendapat perhatian pemerintah.
    • Dana perbaikan dikumpulkan dari patungan warga dengan nominal bervariasi meski mayoritas bekerja sebagai petani.
    • Publik mengkritik lamahnya kinerja pemerintah daerah dan anggota DPRD dalam mengawasi infrastruktur di pelosok desa.

    REPETISI.NET - SUMENEP - Semangat kebersamaan terpancar jelas di Dusun Bulu, Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Pada Jumat (14/2/2026), warga setempat memutuskan untuk turun tangan langsung melakukan perbaikan jalan yang selama ini terbengkalai dan rusak parah.

    Langkah nyata ini diambil karena akses utama menuju Mushalla Nurul Jannah tersebut sudah lama tidak tersentuh bantuan pemerintah. 

    Kondisi jalan yang berbatu dan penuh lubang kerap memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang melintas di sana.

    Ketua pelaksana kegiatan, Qusairi, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul dari kesepakatan bersama setelah sekian lama menunggu janji pembangunan yang tidak kunjung terealisasi. Melansir dari media teropongindonesianews.com (14/2/2026), warga merasa perlu bertindak demi keselamatan publik.

    “Kami akhirnya sepakat memperbaiki secara swadaya karena jalan ini sangat dibutuhkan warga,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan. 

    Dana yang terkumpul merupakan hasil patungan masyarakat, dengan kontribusi mulai dari Rp50 ribu hingga Rp1 juta.

    Meskipun sebagian besar warga Dusun Bulu hanya berprofesi sebagai petani, antusiasme mereka untuk menyumbang tetap tinggi. Gotong royong bahkan berlanjut hingga larut malam demi memastikan akses jalan tersebut segera layak untuk dilewati oleh jamaah dan warga sekitar.

    Harapan besar pun digantungkan kepada para pemangku kebijakan agar tidak lagi menutup mata terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut. 

    “Kalau jalannya sudah dicor, insyaallah aktivitas warga akan lebih lancar dan ekonomi masyarakat sekitar bisa terbantu,” tambah Qusairi.

    Fenomena ini memicu kritik tajam dari publik yang menilai seharusnya berita semacam ini tidak perlu ada jika pemerintah desa hingga kabupaten memiliki kepedulian tinggi. 

    Kepekaan pejabat untuk turun ke bawah mengecek kondisi jalan secara rutin menjadi kunci agar masyarakat tidak merasa berjuang sendirian.

    Selain itu, peran anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari daerah pemilihan (dapil) setempat juga dipertanyakan. 

    Sebagai wakil rakyat, mereka seharusnya melakukan pengawasan ketat terhadap kebutuhan infrastruktur di wilayahnya, bukan justru tampak tidak tahu-menahu mengenai penderitaan konstituennya.

    Lembaga seperti Baznas juga diharapkan tidak tebang pilih dalam memberikan bantuan sosial. 

    Mengingat jalan rusak merupakan "musibah sosial" yang menghambat keamanan warga, dukungan logistik atau anggaran seharusnya bisa dialokasikan bagi masyarakat yang tidak berdaya ini.

    Publik berharap para pemangku kebijakan di Kabupaten Sumenep benar-benar menyibukkan diri untuk melayani rakyat sepanjang waktu. 

    Jangan sampai kehadiran mereka hanya terasa saat membutuhkan suara, namun mendadak kehilangan penglihatan ketika masyarakat sedang membutuhkan bantuan nyata.


    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini