• Jelajahi

    Copyright © Repetisi Net
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Gelar Sarjana Hukum dan Kedokteran Terancam Tidak Relevan Akibat Pesatnya Kecerdasan Buatan Ai

    Repetisi
    Minggu, 15 Februari 2026, 10:49 WIB Last Updated 2026-02-15T03:49:11Z
    masukkan script iklan disini
    Gelar Sarjana Hukum dan Kedokteran Terancam Tidak Relevan Akibat Pesatnya Kecerdasan Buatan Ai


    • Mantan eksekutif Google memperingatkan bahwa mengejar gelar hukum dan kedokteran bisa menjadi pemborosan waktu di era AI.
    • Laju perkembangan teknologi yang sangat cepat diprediksi akan melampaui kurikulum pendidikan tradisional sebelum mahasiswa lulus.
    • Keterampilan manusia seperti empati dan hubungan interpersonal menjadi kunci kesuksesan di masa depan dibandingkan sekadar gelar akademik.


    REPETISI WORLD– Dunia pendidikan tinggi sedang menghadapi tantangan besar seiring dengan ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tidak terbendung.

    Melansir dari laman CNBC Indonesia, seorang mantan petinggi Google mengeluarkan peringatan keras bagi para mahasiswa yang sedang menempuh studi hukum dan kedokteran.

    Jad Tarifi, sosok yang mendirikan tim AI generatif pertama di Google, menyebutkan bahwa gelar-gelar profesional tersebut berisiko menjadi "buang-buang waktu".

    Menurutnya, kecepatan AI dalam berkembang akan jauh melampaui durasi waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menyelesaikan pendidikan spesialis yang panjang.

    "AI sendiri akan hilang saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu," ujar Tarifi.

    Ia menyoroti bahwa jalur profesi seperti dokter atau pengacara membutuhkan waktu hampir satu dekade untuk diselesaikan.

    Kondisi ini dikhawatirkan membuat para lulusan memasuki dunia kerja dengan pengetahuan yang sudah usang atau outdated.

    Tarifi juga mengkritik metode pendidikan saat ini yang dinilainya masih terlalu banyak mengandalkan hafalan.

    Ia berpendapat bahwa gelar akademik tinggi, termasuk PhD, mungkin tidak lagi memberikan nilai lebih di masa depan karena inovasi teknologi yang terus berakselerasi.

    Baginya, masa depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak kredensial atau sertifikat yang dikumpulkan oleh seseorang.

    "Keberhasilan di masa depan tidak akan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif yang unik, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat," ujar Tarifi.

    Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk lebih mengasah keterampilan yang tidak bisa ditiru oleh mesin.

    Beberapa kemampuan utama yang dimaksud adalah empati, keterampilan interpersonal, serta pengembangan diri secara emosional.

    Pandangan ini menambah panjang daftar diskusi di Silicon Valley mengenai perlunya universitas mengubah kurikulum agar tetap selaras dengan kebutuhan industri.

    Laju inovasi yang ada saat ini menuntut sistem pendidikan untuk lebih adaptif dan fokus pada nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental.

    Peringatan ini menjadi sinyal bagi calon mahasiswa untuk lebih bijak dalam memilih jalur karir di tengah dominasi teknologi masa depan.


    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini