• Jelajahi

    Copyright © Repetisi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Mengapa Diam Saat Melihat Ketidakadilan Jauh Lebih Berbahaya dari Protes?

    Repetisi
    Rabu, 20 Mei 2026, 21:02 WIB Last Updated 2026-05-20T14:02:32Z
    masukkan script iklan disini
    Mengapa Diam Saat Melihat Ketidakadilan Jauh Lebih Berbahaya dari Protes?




    Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana semua orang mendadak bisu saat melihat ketidakadilan?

    Di balik jeruji kebungkamannya, ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang mengintai eksistensi kita: matinya akal sehat.

    Tanda Kehidupan dalam Sebuah Protes

    Filsafat politik bukan sekadar teori di atas kertas; ia hidup dalam napas perlawanan sehari-hari. 

    Wiji Thukul menunjukkan bahwa keberanian rakyat untuk mengeluh dan mengkritik adalah tanda bahwa masyarakat masih hidup secara demokratis.

    Ketika orang masih berani bersuara, berarti masih ada harapan untuk memperbaiki ketidakadilan dan mengingatkan kekuasaan agar tidak bertindak sewenang-wenang.

    Secara filosofis, kritik adalah refleksi dari kesadaran manusia yang merdeka. 

    Tanpa adanya dialog, perdebatan, dan oposisi, sebuah negara akan kehilangan fungsi dialektikanya dan terjebak dalam kebekuan berpikir.

    Ancaman Terbesar: Ketakutan yang Melembaga

    Namun, apa yang terjadi ketika rasa takut mulai mengambil alih ruang publik dan membungkam nalar? Di sinilah distopia politik dimulai.

    Namun keadaan menjadi berbahaya ketika rakyat mulai takut berbicara. 

    Ketakutan membuat orang memilih diam meskipun melihat kesalahan, penindasan, atau penderitaan di sekitarnya. 

    Dalam keadaan seperti itu, kekuasaan berjalan tanpa koreksi dan perlahan merasa dirinya selalu benar.

    Ketika kepatuhan buta dianggap sebagai kebajikan tertinggi, struktur kekuasaan akan memonopoli kebenaran itu sendiri. 

    Etika publik bergeser dari keadilan objektif menjadi validasi sepihak dari lingkaran elite.

    Lebih berbahaya lagi ketika ucapan penguasa dianggap tidak boleh dibantah. 

    Kebenaran akhirnya tidak lagi ditentukan oleh fakta atau akal sehat, tetapi oleh siapa yang memiliki kekuasaan. 

    Kritik dianggap ancaman, sementara kepatuhan dipaksa menjadi ukuran kesetiaan.

    Menjaga Akal Sehat dan Kemanusiaan

    Melalui lensa epistemologi dan etika, kebebasan berpendapat bukan sekadar instrumen hukum formal, melainkan pilar moral yang menyangga kemanusiaan kita. 

    Ketika hak ini dicabut, fondasi sosial akan runtuh ke dalam jurang otoritarianisme yang absolut.

    Karena itu, kebebasan berbicara dan keberanian mengkritik bukan sekadar hak politik, tetapi cara menjaga agar kebenaran tetap hidup di tengah masyarakat. 

    Sebab ketika rakyat takut berbicara dan penguasa tidak boleh dikoreksi, yang paling terancam bukan hanya demokrasi, tetapi juga akal sehat dan kemanusiaan itu sendiri

    Menjaga suara tetap nyaring di hadapan kesewenang-wenangan adalah tugas etis setiap individu. 

    Menolak diam bukan hanya tentang membela hak politik, melainkan sebuah ikhtiar mendasar untuk menyelamatkan hakikat kita sebagai makhluk yang berpikir dan berbudaya.

    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close