• Jelajahi

    Copyright © Repetisi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Tata Ruang Kota Sumenep Perlu di Desain Ulang, Khususnya Taman Bunga dan Sekitarnya yang Terasa Semakin Sesak

    Repetisi
    Selasa, 19 Mei 2026, 19:01 WIB Last Updated 2026-05-19T12:01:21Z
    masukkan script iklan disini
    Tata Ruang Kota Sumenep Perlu di Desain Ulang, Khususnya Taman Bunga dan Sekitarnya yang Terasa Semakin Sesak



    REPETISI.NET - SUMENEP - Di daerah-daerah di seluruh Indonesia sekarang berlomba-lomba mempercantik kotanya. Mereka kerahkan segala sumber daya agar landscape kota terlihat indah dan menjadi daya tarik wisata.

    Salah satu yang terkenal sekarang adalah Jawa Barat, yang habis-habisan mendasain dan membangun ulang semua  infrastruktur yang ada.  Hasilnya luar biasa indah. Tentu saja itu memancing minat para wisatawan untuk berkunjung ke sana.

    Itu artinya, PAD mereka pasti akan meningkat, dan yang jelas, masyarakat yang hidup di sana akan sejahtera.

    Kehebatan Gubernur Jawa Barat membangun infrastruktur menjadi perbincangan semua pihak. Bahkan banyak yang ingin pemimpin mereka diganti dengan orang yang kini memimpin jawa barat.

    Lalu bagaimana dengan Sumenep?

    Apakah para pejabat atau pemangku kebijakan sama sekali tidak iri dengan keberhasilan Jawa Barat?

    Ini bukan soal seberapa besar anggaran yang dimiliki. Tapi seberapa besar keinginan membangun dan seberapa besar kreativitas memberdayakan anggaran meski itu minim.

    Semua pejabat Sumenep pasti bisa melihat sendiri, bahwa hingga saat ini Taman Bunga masih jadi tempat favorit beraktivitas.

    Mulai sekadar santai, berolahraga, hingga pusat mengais rejeki khususnya bagi UMKM.

    Jika dilihat baik-baik, akibat penataan ruang yang asal-asalan, seolah tanpa konsep yang jelas, taman Bunga dan sekitarnya terasa semakin sesak dalam pandangan mata. Seolah semua bebas meletakkan apa saja di tempat itu.

    Sampai parkir kendaraan pun harus berjejer dan bertumpuk di situ, dan membuat taman bunga mirip seperti terminal. Banyak pohon dan bunga, tapi kumuh.

    Pernahkah Kepala Dinas PUTR Sumenep main-main ke alun-alun malang?

    Dulu, sekitar tahun 2001, alun-alum malang semrawut, kumuh, dan para PKL bebas hinggap di mana saja mau asal dapat izin.

    Tapi, sekarang, semua tertata rapi. Pusat jajanan UMKM hingga PKL dapat tempat yang layak, dan tidak ada satu kendaraan berani parkir di sekitaran taman alun-alun kota.

    Mereka yang mau ke alun-alun, harus meletakkan kendaraannya di tempat parkir yang sudah tersedia dan aman. Taman kota.benar benar dijaga esetetikanya.

    Lalu, apakah Sumenep tidak adakah ide dalam benak para pejabat Kabupatn Sumenep untuk memperluas dan memperindah pusat kota?

    Katanya mau menyenangkan para tamu wisatawan. Kalau mau menyenangkan tamu, ya harus dijamu dengan baik. Mulai dari penyediaan tempat yang rapi dan indah, lalu pusat UMKM sebagai tempat singgah para tama membelanjakan uangnya, tentu saja tanpa mengganggu keindahan kota.

    Katanya mau tamu betah belama-lama ada di sumenep. Katanya mau meningkatkan PAD.

    Ya harus kerja keras, dong! Bukan hanya akrobat retorika kata-kata di atas kertas.

    Investasi terbaik untuk mendapatkan hasil jangka panjang ya memperbaiki dan menyempurnakan semua sarana dan prasarana yang ada.

    Tapi kalau cuma bisanya melakukan promosi, menampilkan gambar-gambar destinasi wisata tertentu di kabupaten sumenep, sementara tidak ada perbaikan sana-sini, tidak didandani dengan baik, jangan harap ada tamu yang akan betah.

    Mereka pasti akan kecewa pada pandangan pertama, dan tidak akan kembali lagi.

    Kita ambil satu contoh, Keraton Sumenep misalnya, yang sampai saat ini menjadi salah satu andalan wisata Sumenep.

    Mereka datang ke sumenep tentu tidak hanya ingin melihat peninggalan bersejarah saja bukan?

    Mereka juga ingin melihat setiap sisi Kota Sumenep yang lain.

    Misalnya Taman Kota, lalu jalan menuju keraton. Kalau kesan pandangan pertama sudah membuat mereka menelan ludah, misalanya penataan taman kota yang buruk, hanya sesak dengan pohon dan bangunan-bangunan yang tidak penting, lalu kanan kiri jalan menuju keraton sumenep hanya ada tembok dan bagungnan gedung yamg sudah usang catnya, ditambah lagi tidak ada pusat jajanan oleh-oleh khas Sumenep yamg dekat dengan keraton, pasti mereka akan cepat menyelesaikan hasrat mereka lalu pulang.

    Dan ketahuilah, mereka pulang dengan kepala kosong.

    Mereka menempuh perjalanan jauh menuju Sumenep tanpa ada kenangan yang tertinggal dalam kepala mereka.

    Kapan ya kira-kira para pejabat Sumenep mau berpikiran maju?

    Entahlah.

    Jadi kesimpulannya penataan ruang kota kembali dengan desain esetetis itu sangat penting dan mendesak dilakukan ketimbang menyusun banyak acara.

    Tapi kalau pejabat Sumenep merasa nyaman dengan kondisi ruang kota yang seperti itu-itu terus dari tahun ke tahun, apa mau dikata.

    Paling-paling PAD Sumenep tidak akan jauh dari 300 milyar lebih sedikit setiap tahunnya.

    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close