![]() |
| Aljazeera Foto |
- Warga Tigray, Ethiopia, menghadapi ancaman kelaparan massal setelah penghentian bantuan dari badan donor Amerika Serikat (USAID).
- Program kesehatan global dan bantuan pangan lumpuh, menyebabkan angka kematian meningkat drastis di kamp-kamp pengungsian.
- Pemerintah Ethiopia membantah adanya krisis kelaparan meski lembaga internasional mencatat lebih dari 15 juta orang membutuhkan bantuan darurat.
Lansia yang tampak ringkih ini tidak lagi takut pada desing peluru. Baginya, ancaman nyata saat ini adalah perut yang kosong. Ia khawatir kelak tidak ada lagi orang yang tersisa untuk menguburkannya secara layak.
Hitsats kini menjadi potret keputusasaan. Desa yang dihuni ribuan pengungsi internal ini sebelumnya sangat bergantung pada bantuan United States Agency for International Development (USAID). Namun, setahun lalu, bantuan tersebut terhenti total.
Pemangkasan dana besar-besaran oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump telah melumpuhkan operasi bantuan di seluruh dunia. Ethiopia, yang dulunya penerima bantuan terbesar di Afrika sub-Sahara, kini dibiarkan berjuang sendirian.
Dampaknya sangat fatal. World Food Programme (WFP) melaporkan bahwa sekitar 80 persen penduduk Tigray saat ini membutuhkan dukungan darurat. Kurangnya dana memaksa lembaga bantuan memprioritaskan zona konflik lain, meninggalkan Tigray dalam kondisi kritis.
Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) menyebut pemangkasan ini sebagai bencana kemanusiaan global. Di Somalia, pengiriman susu terapeutik terhenti, sementara di Ethiopia, sistem kesehatan publik yang sudah rapuh kini berada di ambang keruntuhan.
Kepala Misi MSF di Ethiopia, Joshua Eckley, mengungkapkan bahwa para aktor bantuan terus mengurangi aktivitas. Akibatnya, akses terhadap perawatan medis, air bersih, dan sanitasi bagi warga rentan semakin mengecil.
Abraha Mebrathu, koordinator kamp pengungsian di Hitsats, mengaku sudah berhenti mencatat data kematian. Angkanya terlalu tinggi untuk terus dihitung. Warga di sana kini hanya "menunggu giliran untuk mati."
Ironisnya, di tengah laporan kelaparan massal, Pemerintah Ethiopia justru memberikan narasi berbeda. Perdana Menteri Abiy Ahmed sempat mengeklaim bahwa tidak ada warga yang mati karena lapar di negaranya.
Pemerintah pusat bersikeras bahwa Ethiopia telah berswasembada gandum. Namun, jaringan sistem peringatan dini kelaparan (FEWS NET) justru mencatat lebih dari 15 juta warga Ethiopia sangat membutuhkan bantuan pangan segera.
Di lapangan, warga seperti Marta Tadesse hanya bisa pasrah. Janda berusia 67 tahun yang mengidap HIV ini tidak lagi menerima obat-obatan dari program PEPFAR milik AS. Baginya, rasa lapar jauh lebih menyiksa daripada penyakit yang dideritanya.
Kondisi pemakaman di gereja setempat pun mulai penuh. Yonas Hagos, seorang diaken, menyebut lahan pemakaman akan segera habis jika angka kematian tidak segera ditekan melalui bantuan nyata.
(*)
Source: Aljazeera


