• Jelajahi

    Copyright © Repetisi Net
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Publik Pertanyakan Keberadaan DPRD Sumenep Saat Warga Pragaan Laok Patungan Perbaiki Jalan Rusak

    Repetisi
    Minggu, 04 Januari 2026, 02:48 WIB Last Updated 2026-01-03T19:48:23Z
    masukkan script iklan disini
    Publik Pertanyakan Keberadaan DPRD Sumenep Saat Warga Pragaan Laok Patungan Perbaiki Jalan Rusak


    • Aksi Mandiri: Warga Desa Pragaan Laok melakukan patungan dana dan memanfaatkan donasi live streaming TikTok untuk memperbaiki jalan poros desa sepanjang 250 meter.
    • Kondisi Infrastruktur: Jalan utama tersebut telah mengalami kerusakan parah selama bertahun-tahun tanpa ada perhatian serius dari pihak berwenang.
    • Kritik Publik: Masyarakat mempertanyakan kinerja anggota DPRD Sumenep Dapil 3 serta transparansi penggunaan Dana Desa yang mencapai miliaran rupiah.



    REPETISI.NET - SUMENEP - Perbaikan jalan poros Desa Pragaan Laok Kecamatan Pragaan Sumenep kini menjadi sorotan setelah warga setempat memutuskan untuk mengambil langkah mandiri akibat kerusakan infrastruktur yang terabaikan bertahun-tahun.

    Fenomena unik muncul ketika masyarakat tidak hanya mengandalkan iuran konvensional, tetapi juga memanfaatkan fitur siaran langsung di media sosial TikTok untuk menggalang donasi.

    Langkah nekat ini diambil karena akses utama sepanjang 250 meter tersebut merupakan urat nadi penting bagi aktivitas pertanian, akses pendidikan, dan mobilitas ekonomi warga yang selama ini terhambat oleh lubang-lubang dalam yang membahayakan pengendara.

    Kekecewaan masyarakat semakin memuncak seiring lambatnya respons dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dan para wakil rakyat.

    Publik kini mempertanyakan keberadaan anggota DPRD Sumenep, khususnya dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3, yang seolah menutup mata terhadap penderitaan konstituennya.

    Ketidakhadiran peran pemerintah di tingkat kecamatan dalam mendeteksi kerusakan jalan yang berlangsung menahun menjadi bukti adanya sumbatan komunikasi dan koordinasi antara birokrasi dan realitas di lapangan.

    Selain itu, transparansi penggunaan Dana Desa yang bernilai miliaran rupiah setiap tahunnya turut dipertanyakan. Seharusnya, anggaran sebesar itu mampu menyentuh perbaikan fasilitas publik tanpa perlu membebani kantong warga secara langsung.

    Aksi swadaya ini menjadi teguran keras bagi pemangku kebijakan agar lebih peka terhadap kebutuhan mendasar masyarakat desa.

    Alokasi anggaran yang tepat sasaran serta pengawasan ketat terhadap dana desa mutlak diperlukan agar tidak ada lagi wilayah yang terisolasi secara ekonomi hanya karena infrastruktur yang hancur.

    Kegigihan warga Pragaan Laok membuktikan bahwa solidaritas sosial mampu menutup celah kegagalan pemerintah dalam menyediakan akses transportasi yang layak bagi rakyat kecil.

    Terakhir, sebaiknya Baznas, atas nama solidaritas, juga perlu menggalang donasi (lewat konser amal, mislanya) untuk penanggulangan jalan-jalan yang rusak di Kabupaten Sumenep.

    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini