• Jelajahi

    Copyright © Repetisi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Aksi Hosnan Ketua Fraksi PDIP Sumenep Ngantor dengan Gowes Sepeda Ontel, Apakah Ini Branding Politik?

    Repetisi
    Sabtu, 18 April 2026, 14:50 WIB Last Updated 2026-04-18T07:50:40Z
    masukkan script iklan disini
    Aksi Hosnan Ketua Fraksi PDIP Sumenep Ngantor dengan Gowes Sepeda Ontel, Apakah Ini Branding Politik?



    SUMENEP – REPETISI.NET - Sebuah pemandangan tidak biasa tersaji di halaman kantor DPRD Sumenep baru-baru ini. Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Hosnan, memilih menanggalkan kendaraan mewahnya dan beralih menggunakan sepeda ontel untuk berangkat bekerja.

    Aksi yang viral di berbagai media ini mengusung narasi besar tentang kampanye hidup hemat Bahan Bakar Minyak (BBM) sekaligus gerakan peduli lingkungan.

    Namun, di balik sorotan kamera yang membingkai momen tersebut, muncul beragam perspektif kritis mengenai efektivitas pesan yang ingin disampaikan sang legislator muda tersebut kepada masyarakat luas.

    Jika masyarakat biasa melakukan hal serupa, barangkali tidak akan ada lensa kamera yang membidik. Bayangkan warga desa yang berjalan kaki puluhan kilometer demi menjajakan dagangan di pasar; ini sebuah perjuangan, tapi siapa peduli?

    Namun, karena Hosnan Abrory adalah seorang figur publik dengan jabatan sebagai Ketua Fraksi, aksi mengayuh pedal ini seketika berubah menjadi komoditas berita yang diperebutkan para kuli tinta.

    Narasi "Peduli Lingkungan" yang diusung dirasa terlalu luas jika hanya diwakili dengan sekadar bersepeda dari rumah ke kantor dengan kondisi aspal kota yang sudah mulus dan nyaman.

    Sebagai politisi muda yang juga duduk di Komisi III DPRD Kabupaten Sumenep, Hosnan dinilai perlu lebih jeli dalam membangun branding politik maupun legacy atau warisan kebijakan bagi konstituennya.

    Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat, masyarakat urban membutuhkan mobilisasi tinggi untuk memenangkan persaingan ekonomi. Mengajak mereka kembali ke sepeda untuk urusan bisnis tentu terasa kurang relevan.

    Pedagang pasar yang harus mengejar waktu agar tidak kehilangan pelanggan tentu sulit membayangkan sepeda sebagai solusi transportasi utama di tengah ritme kerja yang menuntut kecepatan.

    Lagipula, publik di Sumenep sudah cukup cerdas. Mereka sudah lama beralih ke kendaraan bermesin yang irit bahan bakar, di mana hampir seluruh kendaraan di Indonesia saat ini telah lolos standar uji emisi yang ketat.

    Alih-alih sekadar bersepeda, langkah yang dianggap lebih "ilmiah" dan terpelajar bagi seorang legislator adalah mendorong para peneliti lokal untuk menciptakan inovasi bahan bakar alternatif.

    DPRD Sumenep seharusnya bisa memfasilitasi riset-riset mendalam guna melahirkan solusi nyata bagi pengurangan emisi gas buang secara sistemis melalui kebijakan dan teknologi, bukan sekadar simbolisme.

    Konteks "Peduli Lingkungan" akan terasa jauh lebih menyentuh substansi jika dilakukan dengan cara terjun langsung ke pelosok desa menggunakan sepeda untuk menyisir infrastruktur yang terbengkalai.

    Lewat cara menyusuri jalanan desa, Hosnan bisa melihat langsung dan menginventarisir jika jalan yang dilewatinya mengalami kerusakan dan butuh perbaikan, bukan hanya jalan di depan hotel Myze saja yang dibuat licin sesegera mungkin.

    Cara-cara seperti itu lebih tepat disebut peduli lingkungan, sehingga nantinya tidak terdengar lagi masyarakat Sumenep urunan memperbaiki jalan.


    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close