• Jelajahi

    Copyright © Repetisi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Sukses Lestarikan Bahasa Ibu, Kabupaten Sumenep Raih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah 2026

    Repetisi
    Selasa, 26 Mei 2026, 09:23 WIB Last Updated 2026-05-26T02:23:06Z
    masukkan script iklan disini
    Sukses Lestarikan Bahasa Ibu, Kabupaten Sumenep Raih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah 2026

    • Kabupaten Sumenep menerima penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2026 dari Kemendikdasmen atas komitmen menjaga bahasa ibu.
    • Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menerima langsung penghargaan ini pada puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional di Depok.
    • Pemerintah daerah dinilai konsisten mengintegrasikan pelestarian bahasa melalui pendidikan, festival budaya, hingga keterlibatan komunitas.

    REPETISI.NET - SUMENEP - Pemerintah Kabupaten Sumenep mendapatkan apresiasi penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah 2026 tingkat nasional karena tekun merawat kelestarian bahasa ibu, menjaga bahasa lokal agar tidak punah.

    Langkah nyata daerah di ujung timur Pulau Madura ini mendapat pengakuan resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

    Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, hadir langsung menerima trofi kehormatan tersebut pada Senin (25/5/2026) kemarin.

    Prosesi penyerahan berlangsung khidmat di Gedung Garuda, Pusat Pelatihan SDM Kemendikdasmen, Depok, dalam rangkaian Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026.

    Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah ini diberikan setelah Kemendikdasmen memantau keaktifan Sumenep dalam menggalakkan pelindungan bahasa lokal.

    Pemerintah daerah dinilai masif bergerak melalui jalur formal sekolah, kegiatan seni budaya, hingga merangkul elemen masyarakat akar rumput.

    Respons positif mengalir dari sang kepala daerah yang memandang bahasa lokal sebagai aset tak berwujud yang tak ternilai harganya.

    “Bahasa daerah merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat yang harus dijaga keberlangsungannya,” kata Fauzi.

    Bagi Fauzi, eksistensi tuturan lokal melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi semata, melainkan fondasi penting bagi identitas sosial.

    Arus modernisasi menuntut adanya strategi pelestarian yang adaptif agar bahasa ibu tidak tergerus oleh pergeseran gaya hidup generasi muda.

    Langkah konkret yang selama ini dijalankan Pemkab Sumenep mencakup penguatan kurikulum muatan lokal pada institusi pendidikan dasar.

    Selain itu, geliat pelestarian diperkuat lewat festival kebudayaan, kompetisi pidato bahasa daerah, hingga tradisi mendongeng bersama komunitas literasi.

    Tantangan di era digital memang kian kompleks seiring dominasinya bahasa nasional dan bahasa asing di ruang virtual anak muda.

    Fenomena ini memicu kekhawatiran kolektif akan potensi hilangnya penutur jati bahasa ibu di masa depan jika tidak diantisipasi.

    Menyikapi hal tersebut, Fauzi menegaskan bahwa tanggung jawab besar ini tidak bisa bertumpu pada pundak birokrasi semata.

    Sinergi kolektif antara lingkungan keluarga, institusi sekolah, hingga komunitas adat menjadi kunci utama agar bahasa daerah tetap hidup.

    “Masyarakat Kabupaten Sumenep hendaknya semakin aktif dalam mendukung program pelestarian bahasa daerah demi menjaga kekayaan budaya bangsa,” ujarnya.

    Program revitalisasi ini sejatinya bagian dari agenda strategis nasional untuk merawat kebinekaan budaya di seluruh pelosok tanah air.

    Pendekatan kreatif yang menyentuh ruang-ruang ekspresi anak muda menjadi krusial agar mereka bangga menggunakan bahasa asalnya.

    Pencapaian prestisius ini menjadi momentum reflektif bagi seluruh elemen masyarakat Sumenep untuk terus merawat warisan tutur para leluhur.

    Bahasa daerah bukanlah artefak masa lalu yang kaku, melainkan identitas dinamis yang wajib diestafetkan melintasi ruang perkembangan zaman.


    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close