- Sam Altman memprediksi kehadiran Artificial General Intelligence (AGI) dan Artificial Super Intelligence (ASI) sudah sangat dekat.
- AI masa depan tidak hanya setara manusia, tetapi mampu memecahkan masalah kompleks yang tidak bisa dijangkau otak biologis.
- Altman membantah rumor boros air pada ChatGPT dan lebih menyoroti urgensi transisi ke energi nuklir serta surya.
REPETISI.NET - Era kejayaan kecerdasan manusia tampaknya akan segera mendapat tantangan baru dari teknologi yang berkembang super cepat.
Bos OpenAI, Sam Altman, mengungkapkan bahwa lompatan besar menuju kecerdasan buatan tingkat tinggi kini sudah berada di depan mata.
Ia menyebut kehadiran Artificial General Intelligence (AGI), yaitu model AI yang kecerdasannya setara dengan manusia, akan segera tiba.
Setelah fase AGI tercapai, AI tidak lagi memerlukan latihan manual yang terus-menerus seperti saat ini.
Mesin tersebut nantinya akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan masalah baru secara mandiri.
Bahkan, ia bisa mentransfer seluruh kemampuannya ke mesin lain secara otomatis tanpa campur tangan manusia.
Namun, Altman tidak berhenti di situ karena ia juga memprediksi kemunculan Artificial Super Intelligence (ASI).
Pada tahap ASI, teknologi ini diklaim mampu memproses berbagai permasalahan yang melampaui batas kemampuan biologis manusia.
"Mengingat apa yang saya ketahui sebagai perkembangan yang lebih cepat, saya perkirakan kecerdasan buatan super tidak terlalu jauh," kata Altman dikutip dari Indiana Express, Kamis (26/2/2026).
Selain soal kecerdasan, Altman juga meluruskan isu miring mengenai dampak lingkungan dari penggunaan AI.
Ia membantah keras kabar yang menyebutkan bahwa satu kueri di ChatGPT menghabiskan belasan galon air.
"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa konsumsi energi memang menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan.
Dunia perlu bergerak cepat untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih, seperti tenaga nuklir, angin, atau matahari.
Terkait ide membangun pusat data di luar angkasa untuk menghemat lahan dan energi, Altman justru menolaknya mentah-mentah.
Menurutnya, menempatkan pusat data di orbit bumi adalah langkah yang tidak masuk akal untuk saat ini.
"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," ungkap Altman.
Teknologi AI level dewa ini diprediksi akan mengubah peta peradaban secara drastis dalam waktu yang lebih singkat dari perkiraan banyak orang.
(*)


