• Jelajahi

    Copyright © Repetisi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Cetak Biru Revitalisasi Festival atau Parade Musik Tong-Tong Sumenep: Transformasi Seni Berbasis Destinasi, Komodifikasi Budaya, dan Manajemen Event Kronologis

    Repetisi
    Kamis, 11 Juni 2026, 13:12 WIB Last Updated 2026-06-11T06:12:30Z
    masukkan script iklan disini
    Cetak Biru Revitalisasi Festival atau Parade Musik Tong-Tong Sumenep: Transformasi Seni Berbasis Destinasi, Komodifikasi Budaya, dan Manajemen Event Kronologis


    • Re-Engineering Event: Mengubah struktur parade musik tong-tong konvensional menjadi karnaval naratif-historis yang memenuhi standar internasional Event Tourism.
    • Manajemen Pengalaman Wisatawan: Mengintegrasikan teori Experience Economy untuk menyulap atraksi bising menjadi petualangan budaya yang menyentuh panca indra.
    • Strategi Multiplier Effect: Penerapan teori ekonomi pariwisata guna memastikan perputaran modal menyentuh pengrajin lokal dan seniman di tingkat desa secara berkelanjutan.

    REPETISI.NET - SUMENEP - Seni pertunjukan jalanan di ujung timur Pulau Madura selalu berhasil menghadirkan detak magis yang menggetarkan siapa saja yang mendengarnya. 

    Musik tong-tong, atau yang karib dikenal sebagai musik ul-daul, telah lama menjadi denyut nadi kebudayaan masyarakat Kabupaten Sumenep.

    Energi yang meluap-luap dari tabuhan bambu, gemuruh perkusi, serta pancaran visual kereta dekoratif raksasa selalu sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata setiap tahunnya. 

    Namun, dari sudut pandang industri pariwisata modern (cultural tourism), potensi raksasa ini sering kali mentok menjadi sekadar hiburan rakyat musiman semata.

    Pelaksanaan festival yang ada selama ini dinilai masih terjebak pada euforia parade keliling kota dengan kelap-kelip lampu neon dan musik kontemporer yang acak. 

    Tanpa adanya kedalaman narasi, festival legendaris ini kehilangan roh historisnya dan gagal menarik minat segmen wisatawan premium serta turis internasional.

    Guna menaikkan kelas festival ini menjadi sebuah high-value cultural event, Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama para seniman lokal perlu melakukan redefinisi konsep yang radikal. 

    Musik tong-tong harus dielevasi dari sekadar "parade musik berjalan" menjadi "pertunjukan naratif teatrikal bergerak" yang sarat akan nilai sejarah.

    Melalui pendekatan manajemen pariwisata berbasis budaya, berikut adalah cetak biru konsep baru untuk mengubah wajah Festival Musik Tong-Tong Sumenep menjadi mahakarya berkelas dunia:

    1. Dimensi Elemen Atraksi Pariwisata (Teori 4A: Attraction, Accessibility, Amenity, Ancillary)

    Pengembangan festival ini dibedah menggunakan pisau analisis Teori 4A untuk memastikan bahwa sebuah tradisi lokal mampu memenuhi standar kelayakan industri pariwisata global:

    • Attraction (Evolusi Inti Seni): Mengubah core attraction dari sekadar parade visual-audio liar menjadi Historical Moving Theater yang memiliki struktur plot cerita jelas di setiap kereta.
    • Accessibility (Keterpaduan Rute): Menata jalur parade yang tidak mengorbankan urat nadi transportasi publik, melainkan memanfaatkan koridor jalan bersejarah sebagai panggung linier yang mudah diakses pejalan kaki.
    • Amenity (Fasilitas Penunjang): Menyediakan zonasi tribun penonton portabel, area khusus fotografer (media pit), serta toilet publik keliling berkualitas premium di sepanjang jalur pertunjukan.

    Ancillary (Kelembagaan Tradisi): Membentuk Dewan Kurasi Festival yang terdiri dari sejarawan keraton, akademisi seni, dan ahli manajemen event pariwisata untuk menyeleksi kelayakan konten peserta.

    2. Pendekatan Teori Komodifikasi Budaya dan Otentisitas (Erik Cohen)

    Agar peningkatan nilai jual komersial tidak merusak nilai luhur kesenian (teori emergent authenticity), penataan visual dilakukan melalui standardisasi yang ketat:

    Integrasi Busana Kebesaran dan Tari Tradisional: Kostum pemain musik dan penari latar ditingkatkan menggunakan modifikasi pakaian adat bangsawan keraton atau baju Marlena yang elegan. 

    Barisan depan kereta dipadukan dengan koreografi penari Muang Sangkal yang anggun, menciptakan keselarasan visual yang sangat fotogenik.

    Aransemen Wajib Sastra dan Gending Madura: Aturan kompetisi diperketat dengan mewajibkan aransemen gending-gending klasik Madura seperti Pajjar Laggu atau Tondu' Majang sebesar minimal 40%. 

    Penggunaan lagu pop modern yang kurang relevan diganti dengan sisipan teatrikal singkat atau pembacaan puisi Madura kuno di titik penilaian.

    3. Teori Manajemen Event Kronologis (Getz & Page)

    Mengubah manajemen operasional lapangan dengan menerapkan tiga tahapan krusial dalam siklus hidup sebuah festival pariwisata:

    1. Fase Pre-Event (Strategi Komodifikasi Berkelanjutan)

    Paket Wisata Behind the Scenes bagi Wisatawan: Satu bulan sebelum festival dimulai, pengelola merilis paket wisata eksklusif yang mengajak wisatawan mancanegara mengunjungi bengkel pembuatan kereta tong-tong di pelosok desa. 

    Turis diajak berinteraksi langsung, belajar memahat ukiran kayu, serta mencoba memukul ritme instrumen bambu bersama seniman lokal.

    2. Fase On-Event (Manajemen Pementasan Teatrikal)

    Pementasan Konsep Theatrical Moving History: Setiap grup musik tong-tong tidak lagi mendesain kereta secara acak, melainkan diwajibkan membawa satu fragmen sejarah Sumenep. 

    Sebagai contoh, sebuah kereta dirancang khusus sebagai representasi visual era kejayaan Arya Wiraraja saat mendirikan Sumenep, lengkap dengan diorama tokoh-tokohnya di atas kereta.

    Pemanfaatan Situs Bersejarah sebagai Stage Alami: Rute parade dipusatkan di sekitar kawasan sakral seperti Labang Mesem (gerbang Museum Keraton Sumenep) atau Masjid Jami' Sumenep. 

    Kehadiran bangunan berarsitektur akulturasi Islam, Eropa, dan Cina ini menjadi latar belakang panggung alami yang megah saat diterpa lampu sorot (spotlight) dramatis pada malam hari.

    3. Fase Post-Event (Evaluasi & Dampak Lingkungan)

    Manajemen Sampah & Efisiensi Jalur: Pembersihan jalur festival secara instan menggunakan tim kebersihan terpadu dalam waktu 30 menit pasca-parade, serta konversi limbah dekorasi bambu menjadi produk kerajinan daur ulang bernilai ekonomis.


    Sentuhan visual dari konsep baru ini memunculkan atmosfer magis yang jauh lebih kuat dibanding parade konvensional. Penonton tidak sekadar disuguhi kebisingan suara, melainkan seperti menyaksikan babad sejarah Sumenep yang hidup kembali di atas jalanan beraspal.

    Kereta tong-tong yang megah bertransformasi menjadi panggung berjalan yang menampilkan replika arsitektur ukiran kayu jati khas Madura bernuansa merah emas. Kontras lampu sorot yang hangat di area keraton berpadu sempurna dengan dinamisnya gerakan para penari tradisional di sepanjang rute.

    4. Aplikasi Teori Ekonomi Pariwisata: Multiplier Effect (Bull)

    Dampak dari perombakan konsep ini diproyeksikan akan membawa efek domino yang masif pada perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput. 

    Industri perhotelan, penginapan lokal (homestay), hingga pelaku kuliner khas Madura akan menikmati lonjakan keterisian akibat meningkatnya waktu tinggal wisatawan.

    Bengkel-bengkel seni di pedesaan kini memiliki ruang hidup yang lebih sejahtera karena karya ukiran mereka dihargai sebagai komoditas seni bernilai tinggi. 

    Kolaborasi seni ini membuktikan bahwa pelestarian sejarah tidak harus kaku, melainkan bisa dikemas secara adaptif dan spektakuler.

    Melalui komitmen bersama antara regulasi pemerintah yang ketat, kreativitas tanpa batas para musisi, serta dukungan pokdarwis, visi ini sangat mungkin diwujudkan. 

    Festival Musik Tong-Tong Sumenep siap melangkah pasti menjadi ikon festival budaya jalanan baru yang disegani di kancah internasional.

    Sebenarnya konsep atau ide semacam ini harus ada dalam benak Kepala Disbudporapar Sumenep. Totalitas itu penting, dan sebuah usaha yang maksimal tidak akan mengkhianati hasil.


    (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close